YANG TERBUANG NAMUN PAHLAWAN

Oleh: Teti Zebua

“Dear Ibu Teti, terima kasih telah berpartisipasi aktif dalam diskusi Yefta di FB Grup Bio-Kristi ...” saya mendapat pesan dari Mbak Okti sesaat setelah selesainya diskusi mengenai tokoh Yefta tersebut. Meski saya tidak terlalu suka dipanggil ibu, namun saya sangat menyukai keramah-tamahan yang beliau berikan pada semua peserta diskusi.

Mengupas tentang Yefta sebagai salah seorang hakim di antara bangsa Israel, ingatan saya melayang pada kisah seorang teman yang baru saja kehilangan semua hal berharga dalam hidupnya, sanak saudara, istri, dan pekerjaannya dikarenakan ia memutuskan memercayai Yesus dan meninggalkan kepercayaan lamanya. Betapa menyakitkan dibuang oleh keluarga sendiri. Diusir dari rumah dan kehilangan segalanya. Bertolak dari kisah teman saya itu, saya membayangkan Yefta yang diusir dari rumah ayahnya oleh saudara-saudaranya. Ia pasti sangat sakit hati dan mungkin berjanji tidak akan kembali lagi ke rumahnya ataupun tanah kelahirannya. Namun, sesuatu hal lain terjadi dan itu sungguh mengubahkan hidupnya.

Saya membuka Alkitab saya berdasarkan ayat mula-mula yang dipaparkan oleh Mbak Okti, yakni di Hakim-Hakim 11:29-31. Dari sana, saya mengetahui bahwa kisah tentang Yefta ada dalam Kitab Hakim-Hakim. Meski awalnya, saya sempat kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana dan seperti apa jalannya diskusi tersebut karena poin materi yang diberikan langsung merujuk pada inti kehidupan Yefta. Sebagai orang awam yang belum mengetahui tentang detail keseluruhan kisah di Alkitab, saya merasa kebingungan awalnya, tetapi ketika menggunakan clue ayat yang ada, saya akhirnya dapat memahami kisah perjalanan kehidupan seorang tokoh pahlawan iman Yefta ini.

Hal yang saya pelajari tentang Yefta bahwa Allah menunjukkan kemurahan-Nya dengan memakai siapa pun, dengan latar belakang apa saja untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Kebanyakan adalah seseorang yang memiliki kehidupan masa lalu yang kelam, justru ketika tiba waktu-Nya, Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi seseorang tersebut sebuah kehormatan yang tidak terduga jika dipikirkan secara akal manusia. Dalam kasus Yefta, dulunya ia adalah anak seorang sundal, dan oleh anugerah Allah, ia ditemui kembali oleh kerabatnya dan diangkat menjadi pemimpin bagi suku bangsanya ketika mereka ketakutan menghadapi musuh orang Amon. Bahkan, Alkitab mencatat bahwa Yefta adalah salah seorang pahlawan yang gagah perkasa pada saat itu (Ibrani 11). Apa yang hina bagi pandangan manusia justru itulah yang dipakai Tuhan. Bukankah Allah itu sungguh setia dan adil? Pemurah juga penyayang?

Karakter Yefta yang tetap mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan juga memberikan peneguhan, bahwa dalam memulai sesuatu haruslah menyerahkan sepenuhnya di tangan Allah sumber segala kemenangan. Di sisi lain, sikap patuh dan setia yang dimiliki Yefta dalam menggenapi nazarnya kepada Allah, juga memberikan "insight" tersendiri bagi saya. Mengajarkan saya untuk tidak bermain-main dengan janji yang pernah saya ucapkan, dan itu harus ditepati.

Pada intinya, setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memulai segala sesuatu yang baru dalam hidup akan memimpin pada kehormatan dan kemuliaan yang Tuhan sendiri sediakan bagi kita. Hanya jika kita terus berpegang kepada-Nya, memercayai-Nya, dan terus mengarahkan pandangan kita hanya kepada-Nya. Taat dan setia pada pimpinan-Nya.

Meski akhirnya diskusi ini berakhir, namun saya bersyukur menjadi bagian dari pengalaman iman Yefta dan juga sharing pengalaman dari teman-teman peserta lainnya. Alangkah lebih baik jika di bagian akhir sesi diskusi, moderator memberikan kesimpulan berdasarkan kebenaran Alkitab dari semua rangkuman pendapat dalam diskusi tersebut.

Ad Maioreim Dei Gloriam.

Kategori: Pelayanan.
Kata kunci: Diskusi Bio-Kristi, Yefta, iman, Tokoh Alkitab.