Spiritualitas Simone Weil untuk Menyerupai Kristus

Ditulis oleh: N. Risanti


Gambar: Weil di dalam sebuah pabrik
Weil di antara para buruh pabrik

Simone Weil memandang spiritualitas memiliki kaitan erat dengan tanggung jawab sosial. Baginya, keprihatinan mendalam kepada orang-orang miskin dan lemah menjadi kata-kata pengesahan yang mewakili kondisi titik balik spiritualnya. Ia memang dikaruniai kemampuan untuk berempati secara mendalam semenjak kecil, dan perasaan itulah yang mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan yang nyaman dengan bekerja menjadi buruh yang mengoperasikan mesin-mesin berat di pabrik. Melalui pengalamannya sebagai buruh tersebut, Weil melihat betapa beratnya pekerjaan para buruh dan bagaimana mereka mendapat penghinaan setiap hari. Keterlibatannya sebagai aktivis serikat buruh menjadi pernyataan keseriusannya untuk berdiri di pihak mereka yang tertindas dan mengalami ketidakadilan dalam sistem kemasyarakatan.

Meskipun pikirannya selalu diisi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang agama, Weil sulit untuk bergabung dengan salah satu gereja karena kecurigaannya mengenai keburukan yang dapat dilakukan oleh organisasi religius ketika menjadi besar dan berkuasa. Sejarah gereja Katolik dipandangnya dekat dengan berbagai pelarangan, pengucilan, serta inkuisisi pada masa lalu, sementara gereja Protestan terkait erat dengan negara-negara yang individualis dan kurang memiliki perspektif global. Kepeduliannya yang besar terhadap penderitaan dan mereka yang menderita membuatnya berjarak dengan gereja sebagai lembaga. Namun, spiritualitasnya untuk menyerupai Kristus dan menyerahkan diri bagi mereka yang menderita dan membutuhkan sungguh patut menyentak pikiran kita yang mengaku diri sebagai anggota gereja dan pengikut Kristus.

Download Audio

Sumber referensi:

1. _____. Simone Weil. Dalam http://www.famousphilosophers.org/simone-weil/

2. Tastard, Terry. 2001. Simone Weil's Last Journey. Dalam http://americamagazine.org/issue/335/article/simone-weils-last-journey